Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Review Kemabruran Haji

Review Kemabruran Haji

Uril Bahruddin
Guru Besar bidang Ilmu Bahasa Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Jamaah rahimakumullah...

Alhamdulillah, hari ini kita sudah kembali ke hotel transit, setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji. Kita sudah berupaya semaksimal mungkin untuk dapat menjalankan ibadah haji sebagaimana Rasulullah saw melakukannya, namun sudah pasti tidak bisa persis 100% sama dengan Rasulullah. Rasulullah dulu naik onta, sekarang kita jalan pakek bis. Dulu di tenda-tenda Arafah-Mina tidak ber-AC, sekarang full AC, dan masih banyak lagi perbedaan yang bersifat teknis dalam pelaksanaan ibadah haji kemarin.

Kita semua sudah memahami bahwa ibadah haji adalah proses yang dijalani seorang hamba dalam rangka membersihkan diri dari kotoran, kesalahan dan dosa. Hak ini seiring dengan hadis yang disampaikan oleh baginda Rasulullah saw: "Barangsiapa menunaikan ibadah haji lalu ia tidak mengucapkan kata-kata kotor serta tidak berbuat kefasikan maka ia pulang dalam keadaan suci seperti pada sa'at dilahirkan oleh ibunya". (HR. Ahmad). Oleh karena itu, kita berharap semoga seluruh rangkaian ibadah haji yang telah kita lakukan, benar-benar dapat menghapus dosa-dosa dan kekeliruan yang kita perbuat.

Dalam kesempatan pagi hari ini, saya ingin mereview kembali tema penting yaitu tentang kemabruran haji. Sebagaimana sudah pernah kita singgung sebelumnya, bahwa kemabruran haji seseorang dapat dilihat pada tiga kondisi, yaitu: sebelum haji, saat haji, dan setelah haji. Ketiga kondisi tersebut sangat terkait dan tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lain. Senyampang kita masih berada di tanah suci, mari kita lihat kembali masing-masing diri kita terkait dengan tiga kondisi tersebut.

Informasi Seputar Pendidikan Terbaru, Kunjungi https://www.koran-edukasi.com/

Pertama: Sebelum haji

Menunaikan ibadah haji tidak sama dengan dengan rukun Islam lainnya, karena ibadah haji membutuhkan beaya yang besar. Hal ini sudah pasti beaya yang akan digunakan untuk pergi haji harus harta yang halal. Dalam hal masalah harta, dalam Islam harus memperhatikan 2 hal; bagaimana cara mendapatkannya dan bagaimana cara membelanjakannya. Jika harta digunakan untuk ibadah haji, maka jelas sudah sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah. Seandainya dalam memperoleh harta masih terdapat beberapa cara yang bertentangan dengan mekanisme dan ketentuan Islam, maka cara terbaik untuk mensucikannya adalah dengan mengeluarkan zakat atau mensedekahkan sebagiannya.

Hal yang lain, yang perlu diperhatikan sebelum melaksanakan ibadah haji adalah memperbaiki hubungan kita dengan sesama. Dari sini, membersihkan hati sebelum haji menjadi penting, menghilangkan segala hal yang mengganggu hati kita. Jika sejak awal sebelum melaksanakan ibadah hati kita bersih, maka tujuan ibadah haji, yaitu pembersihan diri dan peningkatan spiritual dapat digapai dengan mudah dan sempurna.

Informasi Seputar Pendidikan Terbaru, Kunjungi https://www.koran-edukasi.com/

Kedua: Saat pelaksanaan haji

Dalam beribadah, terdapat dua syarat yang dapat mempengaruhi keabsahan ibadah kita. Syarat yang pertama adalah niat yang benar. Motivasi menunaikan ibadah haji ini hanya dalam rangka memenuhi panggilan Allah semata, bukan yang lainnya. Untuk memastikan adanya niat yang ikhlash itu butuh waktu, sehingga perlu latihan. Terkadang masih muncul dihati ini rasa bangga jika bisa melakukan ibadah haji, apalagi bisa berkali-kali menunaikannya. Perasaan bangga dan lebih baik dari orang lain yang belum haji seperti ini, sebenarnya perlu diperbaiki. Kita perlu ganti kebanggaan itu dengan introspeksi diri, mengapa Allah memanggil kita sekarang untuk haji? Bisa jadi karena banyaknya dosa dan kesalahan yang kita perbuat, sehingga ibadah haji ini adalah kesempatan untuk segera bertaubat.

Syarat kedua adalah kesesuaian ibadah yang kita laksanakan dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw., beliau bersabda terkait dengan pelaksanaan ibadah haji: "Ambillah dariku cara melaksanakan ibadah haji" (HR Muslim). Sudah semestinya, ada sejumlah perbedaan pelaksanaan haji di zaman modern seperti sekarang ini dengan zaman Rasulullah saw., utamanya masalah sarana dan fasilitas. Meniru atau mencontoh haji seperti Rasulullah adalah dengan melaksanakan seluruh rukun dan wajib haji, serta berusaha semaksimal mungkin juga memperhatikan hal-hal yang sunah.

 Informasi Seputar Pendidikan Terbaru, Kunjungi https://www.koran-edukasi.com/

Ketiga: Setelah haji

Dampak dan pengaruh suatu ibadah dapat dilihat pada saat seseorang selesai melaksanakan ibadah. Dampak utama dari setiap ibadah termasuk di dalamnya ibadah haji adalah semakin meningkatnya kualitas penghambaan atau ketaatan manusia di sisi Allah. Pada saat yang sama semakin sedikit kemaksiatannya yang dilakukan. Dampak lain adalah semakin banyak memberi kebermanfaatan buat orang lain. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw.: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain".

Seyogyanya seorang mukmin setelah menjalankan ibadah haji memiliki perubahan dalam dirinya, perubahan menjadi lebih baik tentunya. Perubahan yang diharapkan dapat memberi manfaat buat sesama. Seorang mukmin yang sudah ber-haji seharusnya menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakatnya dalam mengamalkan kebaikan. Semua itu tentunya dilaksanakan dengan terus menerus dan istiqamah hingga akhir hayat. Semoga kita semua yang telah sukses menjalankan ibadah haji dapat memberi dampak yang baik dalam kehidupan ini.

Makkah, 13 Dzulhijjah 1443 Hijriyah

Sumber tulisan: https://www.facebook.com/uril.bahruddin

 Informasi Seputar Pendidikan Terbaru, Kunjungi https://www.koran-edukasi.com/

Posting Komentar untuk "Review Kemabruran Haji"